Pagi yang cerah untuk Deasy, Uki, dan Arista. Genap 8 tahun mereka bersahabat sejak sekolah dasar. Entah apakah ini rencana Tuhan, mereka bertiga mungkin ditakdirkan selalu bersama. Mereka selalu satu satu sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA saat ini. Dan yang lebih menakjubkan lagi, mereka bertempat tinggal di satu kompleks perumahan yang sama. Walaupun mereka memiliki sifat yang berbeda satu sama lain, tapi mereka selalu menemukan jalan keluar saat suatu masalah menerpa mereka.
Deasy adalah seorang perempuan yang populer disekolah, karena ia memiliki paras yang cantik dan ekonomi yang mapan, walaupun terkadang bersifat judes. Uki adalah laki-laki satu-satunya di tiga serangkai ini, berkepribadian lucu, gaul, up to date, dan memiliki solidaritas tinggi. Arista adalah bintang kelas, hobi membaca alias kutu buku, pendiam dan karena sifat terakhir tersebut ia sering disebut "cewek misterius".
"Yeeeey ! Happy holiday guys !", teriak Deasy saat 'tersadar' dari tidurnya. Seketika itu pula ia menelpon dua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Uki dan Arista. Deasy berencana untuk mengajak mereka berlibur ke Puncak.
Kebetulan orang tua Deasy memiliki villa disana. "Guys, gimana kalau liburan kali ini kita ke Puncak ? Kita nginep di villa orang tua gue.", ajak Deasy. "Gue setuju banget tuh ! Kita emang butuh refreshing sejenak setelah ngadepin ujian akhir semester kemarin.", timpal Uki. "Aku mau ikut, tapi aku ijin orang tuaku dulu ya.", jawab Arista kalem.
Kebetulan orang tua Deasy memiliki villa disana. "Guys, gimana kalau liburan kali ini kita ke Puncak ? Kita nginep di villa orang tua gue.", ajak Deasy. "Gue setuju banget tuh ! Kita emang butuh refreshing sejenak setelah ngadepin ujian akhir semester kemarin.", timpal Uki. "Aku mau ikut, tapi aku ijin orang tuaku dulu ya.", jawab Arista kalem.
Kesepakatan telah tercapai, pagi ini mereka berkumpul ke rumah Uki, kemudian berangkat ke Puncak dengan mobil milik Uki. Mereka menikmati sepanjang perjalanan. Deasy tengah asik mendengarkan lagu dengan earphone miliknya, sedangkan Arista sibuk membaca novel terbaru, memang benar-benar kutu buku perempuan ini.
"Wuuiiih ! Pemandangannya indah banget ! Gak salah lo Deas pilih tempat buat liburan.", seru Uki ketika hampir sampai tujuan.
Setelah menempuh perjalanan jauh selama 5 jam, akhirnya mereka sampai di villa milik Deasy. "Kita beres-beres barang bawaan dulu, baru kita jalan-jalan.", seru Deasy.
Setelah semua barang bawaan beres, mereka memutuskan jalan-jalan mengitari area villa milik Deasy. Pemandangan disekitar villa Deasy sangat indah, ditambah villa ini terletak diatas bukit. Saat jalan-jalan mereka menemui danau, langsung saja mereka mendatangi danau tersebut dan duduk-duduk disebuah tempat mirip seperti dermaga kecil.
Malam pun datang, mereka duduk dan bercengkrama di balkon lantai atas villa. Arista yang membawa teropong bintangnya langsung mencari bintang-bintang indah yang menyinari malam mereka. "Lihat ! Bintang itu indah banget ! Ada tiga bintang disana yang sinarnya paling terang. Aku berharap ketiga bintang itu melambangkan persahabatan kita." harap Arista. Uki dan Deasy memandang senyum ke Arista, yang kemudian mereka berpelukan.
Jam telah menunjukkan pukul 12.00 malam, tanda hari sudah larut, saatnya mereka pergi untuk beristirahat.
Keesokan harinya, cerahnya pagi menyapa mereka bertiga yang sedang jogging. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil melaju kencang, dan hampir menabrak Arista yang memang berada agak ke tengah. Melihat hal tersebut, Deasy langsung naik pitam. "Woy !! Kalo nyetir jangan ugal-ugalan !!" Pengemudi mobil tadi langsung turun dari mobilnya, "Maaf ya, gue tadi gak sengaja." kata pengemudi sambil menolong Arista bangun. Belum sempat Arista menjawab, Deasy langsung marah , "Eh, elo punya mata dipake gak sih ! Lihat, gara-gara lo temen gue jadi kayak gini. Tadi kalau beneran ketabrak gimana ? Pokokna lo harus tanggung jawab. "Eh, gue kan udah minta maaf ! Kenapa lo nyolot sih !", balas pengemudi itu. "Udah-udah ! Kenapa jadi kalian yang bertengkar ? Ini si Arista tolongin dulu dong. Dia kan lagi shock.
Sebagai tanda permintaan maaf, pengemudi itu bersedia mengantar mereka bertiga kembali ke villa. Sesampainya di villa, pengemudi tersebut memperkenalkan diri, "Nama gue Faris, gue dari Bekasi. Gue kesini cuma mua ngisi liburan. Kebetulan villa gue gak jauh dari sini. Sekali lagi, maafin kecerobohan gue tadi.", kata Faris yang kemudian langsung pergi.
Keesokan harinya, Arista yang sudah merasa tenang bertemu Faris di danau kala berjalan sendiri. "Eh, kamu kan yang kemarin hampir aku tabrak ? Kita kan belum sempat berkenalan." sapa Faris. Tanpa ragu Arista memperkenalkan diri, " Nama aku Arista." "Maafin gue ya, gue kemarin bener-bener gak sengaja. Gak tau kenapa gue gak konsen nyetir kemarin.", sesal Faris. "Nyantai aja kali, aku juga yang salah kok kurang kepinggir sedikit jalannya.", kata Arista. "Kita bisa jadi teman kan sekarang ?", pinta Faris. "Hahahaha kenapa enggak ? Punya teman kayak kamu lucu juga ya.", jawab Arista sambil menjabat tangan Faris.
Tiba-tiba Deasy datang, "Eh, lo cowok ceroboh ! Gak punya malu lo, masih sempat deketin sahabat gue, setelah apa yang lo lakuin ke sahabat gue !, gertak Deasy. "Udahlah Deas, aku sudah maafin dia kok. Lagi pula dia kan gak sengaja, to aku juga gapapa kan ?", kata Arista. "Terserah lo deh Ris.", kata Deasy yang kecewa dengan jawaban sahabatnya tersebut. Ia pun langsung pergi mereka berdua. Ia pergi menuju kebun teh yang terhmpar hijau. Sejuknya Puncak dan hijaunya hamparan kebun teh mulai bisa menenangkan Deasy. Sesaat ia teringat akan sosok yang pernah mengisi hatinya, sosok tersebut memiliki paras yang mirip dengan Faris. Ya, dulu Deasy pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki bernama Nino. Ia sangat mencintai laki-laki tersebut. Namun, ditengah jalannya hubungan mereka, Nino meninggalkannya tanpa sebab. Deasy sangant kecewa dengan sikap Nino. Itulah mengapa ia menjadi perempuan yang judes.
Ditengah lamunannya, Deasy dikejutkan oleh Uki yang kebetulan juga sedang berjalan-jalan disekitaran kebun teh. Uki menepuk pundak Deasy, "Eh, ratu galau ! Sendirian aja nih ? Mana si Arista ?. "Eh, elo Ki, gangguin orang aja lo. Ngapain lo kesini ? Gue lagi pengen sendirian.", jawab Deasy sambil berlalu meninggalkan Uki. Uki pun bingung dengan sikap Deasy tersebut. Sejuta pertanyaan pun melayang-layang dibenak Uki.
Hari menjelang malam, saatna tiga serangkai ini menyiapkan makan malam. Makan malam pun telah siap. Dimeja makan tak ada satupun suara percakapan mereka, semua hening.
Setelah selesai makan, Deasy langsung pergi meningglakn mereka berdua kekamarna tanpa berkata apa-apa. Uki bertanya pada Arista, "Ada apa sih sama si Deasy ?" Dari tadi murung terus, ngelamun terus. Pas gue tanyain, dia langsung marah-marah." "Aku juga gak tahu Ki. Sejak kejadian kemarin itu, dia jadi sensitif, gampang marah terus. "Jadi lo gak tahu tadi Deasy merenung sendirian di kebun teh, kayaknya dia lagi kepikiran sesuatu.", tebak Uki.
Pagi harinya, Faris yang sudah janjian dengan Arista mengajakn jogging bersama. Faris menghampiri villa mereka. Deasy yang membuka pintu mendapati Faris berada di villanya, langsung marah,"Eh, elo lagi, ngapain lo kesini ? Mau cari Arista ? Apa mau bikin gara-gara lagi ?". Arista yang mengetahui Deasy sedang marah langsung menenangkannya, "Udahlah Deas, ngapain sih marah-marah terus ? Aku pusing dengernya ?". Deasy menatap Arista penuh kekecewaan dan pergi berlalu. Ia kemudian pergi ketempat yang sama seperti kemarin. Uki yang melihat Deasy pergi langsung mengejar. Dengan kalem Uki mengajak Deasy untuk duduk di gubuk ditengah kebun teh. Setelah didesak Uki akhirnya Deasy menceritakan apa yang ia rasakan tiap kali menatap wajah Faris, ia langsung akan Nino.
Hari keempat, sikap Deasy makin aneh saja. Dia lebih suka menyendiri ditengah hamparan kebun teh. Sedangkan Arista makin akrab dengan Faris dan sering menghabiskan waktu bersamanya. Tak ayal Uki makin pusing dengan dua sahabatnya yang makin hari makin menjauh.
Sore harinya, Uki 'mensidang' dua sahabatnya itu. "Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian ? Beberapa hari ini kalian aneh, satu sama lain menjauh." Awalnya mereka berdua hanya diam saja sambil menampakkan wajah 'kecut' mereka. "Oke gue mau jujur, sejak gue ketemu si Faris, gue terus keinget wajah Nino, mantan gue. Gue makin gak suka tiap gue lihat Faris perhatian banget ke Arista, selalu bisa bikin Arista tertawa. Gue iri sama Arista !", gertak Deasy.
"Aku juga mau jujur, aku ngerasa sebel banget sama Deasy, dia selalu marah sama Faris, harusnya dia bisa lihat sisi laindari Faris yang baik.", ungkap Arista.
Setelah mendengar pernyataan dari kedua sahabat perempuannya itu, Uki lantas berpikir mencari jalan keluar dari masalah ini. Namun ia tak membeberkan ke Deasy dan Arista.
Tanpa sepengetahuan Deasy dan Arista, Uki menceritakan hasil 'persidangan' kemarin ke Faris. Uki meminta Faris ikut dengannya ke kebun teh menemui Deasy.
Sesampainya di kebun teh, Faris mendapati Deasy sedang merenung. Mengetahui kedatangan Faris, Deasy langsung menanyakan sesuatu ke Faris, namun kali ini tak ada ekspresi marah seperti biasanya.
"Faris, gue mau tanya ke lo, lo suka kan sama Arista ?", tanya Deasy.
"Enggak Deas, gue itu justru suka sama lo.", jawab Faris tegas.
"Iya Deas, Faris deketin aku karena mau lebih tau banyak tentang kamu, seperti apa kamu, Faris juga cerita ke aku kalau dia jatuh cinta sama kamu dari awal bertemu.", timpal Arista tiba-tiba.
"Gue gak percaya, cowok model kayak lo bisa suka sama gue.", jawab Deasy.
"Deas, jujur gue suka sama lo, gue cinta sama lo, dari cara lo ngebelain Arista, kepedulian lo menandakan kalau lo bisa sayang banget sama seseorang. Itu yang bikin gue yakin atas perasaan suka suka gue ke lo.", jawab Faris.
Menengar perkataan Faris, Deasy kemudian diam sejenak. Nampak ia menitikkan air mata. Faris berinisiatif memeluk Deasy, Deasy menangis di dekapan Faris. Deasy nampak menyesal dan tak menyangka kalau akan jadi begini akhirnya. Faris memberainkan diri menyatakan apa yang ia rasakan, "Deas, maukah kamu jadi kekasihku ?"
"Gue mau jadi pacar lo, asal lo jangan tinggalin gue tanpa sebab, gue trauma kalau itu terjadi.", jawab Deasy.
"Gue gak akan ninggalin lo, Deas.", jawab Faris.
Lalu mereka berempat tersenyum bahagia, Faris dan Deasy akhirnya menjalin satu hubungan, dan membawa cerita baru tanpa merubah persahabatan dengan Uki dan Arista.
Sebagai tanda permintaan maaf, pengemudi itu bersedia mengantar mereka bertiga kembali ke villa. Sesampainya di villa, pengemudi tersebut memperkenalkan diri, "Nama gue Faris, gue dari Bekasi. Gue kesini cuma mua ngisi liburan. Kebetulan villa gue gak jauh dari sini. Sekali lagi, maafin kecerobohan gue tadi.", kata Faris yang kemudian langsung pergi.
Keesokan harinya, Arista yang sudah merasa tenang bertemu Faris di danau kala berjalan sendiri. "Eh, kamu kan yang kemarin hampir aku tabrak ? Kita kan belum sempat berkenalan." sapa Faris. Tanpa ragu Arista memperkenalkan diri, " Nama aku Arista." "Maafin gue ya, gue kemarin bener-bener gak sengaja. Gak tau kenapa gue gak konsen nyetir kemarin.", sesal Faris. "Nyantai aja kali, aku juga yang salah kok kurang kepinggir sedikit jalannya.", kata Arista. "Kita bisa jadi teman kan sekarang ?", pinta Faris. "Hahahaha kenapa enggak ? Punya teman kayak kamu lucu juga ya.", jawab Arista sambil menjabat tangan Faris.
Tiba-tiba Deasy datang, "Eh, lo cowok ceroboh ! Gak punya malu lo, masih sempat deketin sahabat gue, setelah apa yang lo lakuin ke sahabat gue !, gertak Deasy. "Udahlah Deas, aku sudah maafin dia kok. Lagi pula dia kan gak sengaja, to aku juga gapapa kan ?", kata Arista. "Terserah lo deh Ris.", kata Deasy yang kecewa dengan jawaban sahabatnya tersebut. Ia pun langsung pergi mereka berdua. Ia pergi menuju kebun teh yang terhmpar hijau. Sejuknya Puncak dan hijaunya hamparan kebun teh mulai bisa menenangkan Deasy. Sesaat ia teringat akan sosok yang pernah mengisi hatinya, sosok tersebut memiliki paras yang mirip dengan Faris. Ya, dulu Deasy pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki bernama Nino. Ia sangat mencintai laki-laki tersebut. Namun, ditengah jalannya hubungan mereka, Nino meninggalkannya tanpa sebab. Deasy sangant kecewa dengan sikap Nino. Itulah mengapa ia menjadi perempuan yang judes.
Ditengah lamunannya, Deasy dikejutkan oleh Uki yang kebetulan juga sedang berjalan-jalan disekitaran kebun teh. Uki menepuk pundak Deasy, "Eh, ratu galau ! Sendirian aja nih ? Mana si Arista ?. "Eh, elo Ki, gangguin orang aja lo. Ngapain lo kesini ? Gue lagi pengen sendirian.", jawab Deasy sambil berlalu meninggalkan Uki. Uki pun bingung dengan sikap Deasy tersebut. Sejuta pertanyaan pun melayang-layang dibenak Uki.
Hari menjelang malam, saatna tiga serangkai ini menyiapkan makan malam. Makan malam pun telah siap. Dimeja makan tak ada satupun suara percakapan mereka, semua hening.
Setelah selesai makan, Deasy langsung pergi meningglakn mereka berdua kekamarna tanpa berkata apa-apa. Uki bertanya pada Arista, "Ada apa sih sama si Deasy ?" Dari tadi murung terus, ngelamun terus. Pas gue tanyain, dia langsung marah-marah." "Aku juga gak tahu Ki. Sejak kejadian kemarin itu, dia jadi sensitif, gampang marah terus. "Jadi lo gak tahu tadi Deasy merenung sendirian di kebun teh, kayaknya dia lagi kepikiran sesuatu.", tebak Uki.
Pagi harinya, Faris yang sudah janjian dengan Arista mengajakn jogging bersama. Faris menghampiri villa mereka. Deasy yang membuka pintu mendapati Faris berada di villanya, langsung marah,"Eh, elo lagi, ngapain lo kesini ? Mau cari Arista ? Apa mau bikin gara-gara lagi ?". Arista yang mengetahui Deasy sedang marah langsung menenangkannya, "Udahlah Deas, ngapain sih marah-marah terus ? Aku pusing dengernya ?". Deasy menatap Arista penuh kekecewaan dan pergi berlalu. Ia kemudian pergi ketempat yang sama seperti kemarin. Uki yang melihat Deasy pergi langsung mengejar. Dengan kalem Uki mengajak Deasy untuk duduk di gubuk ditengah kebun teh. Setelah didesak Uki akhirnya Deasy menceritakan apa yang ia rasakan tiap kali menatap wajah Faris, ia langsung akan Nino.
Hari keempat, sikap Deasy makin aneh saja. Dia lebih suka menyendiri ditengah hamparan kebun teh. Sedangkan Arista makin akrab dengan Faris dan sering menghabiskan waktu bersamanya. Tak ayal Uki makin pusing dengan dua sahabatnya yang makin hari makin menjauh.
Sore harinya, Uki 'mensidang' dua sahabatnya itu. "Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian ? Beberapa hari ini kalian aneh, satu sama lain menjauh." Awalnya mereka berdua hanya diam saja sambil menampakkan wajah 'kecut' mereka. "Oke gue mau jujur, sejak gue ketemu si Faris, gue terus keinget wajah Nino, mantan gue. Gue makin gak suka tiap gue lihat Faris perhatian banget ke Arista, selalu bisa bikin Arista tertawa. Gue iri sama Arista !", gertak Deasy.
"Aku juga mau jujur, aku ngerasa sebel banget sama Deasy, dia selalu marah sama Faris, harusnya dia bisa lihat sisi laindari Faris yang baik.", ungkap Arista.
Setelah mendengar pernyataan dari kedua sahabat perempuannya itu, Uki lantas berpikir mencari jalan keluar dari masalah ini. Namun ia tak membeberkan ke Deasy dan Arista.
Tanpa sepengetahuan Deasy dan Arista, Uki menceritakan hasil 'persidangan' kemarin ke Faris. Uki meminta Faris ikut dengannya ke kebun teh menemui Deasy.
Sesampainya di kebun teh, Faris mendapati Deasy sedang merenung. Mengetahui kedatangan Faris, Deasy langsung menanyakan sesuatu ke Faris, namun kali ini tak ada ekspresi marah seperti biasanya.
"Faris, gue mau tanya ke lo, lo suka kan sama Arista ?", tanya Deasy.
"Enggak Deas, gue itu justru suka sama lo.", jawab Faris tegas.
"Iya Deas, Faris deketin aku karena mau lebih tau banyak tentang kamu, seperti apa kamu, Faris juga cerita ke aku kalau dia jatuh cinta sama kamu dari awal bertemu.", timpal Arista tiba-tiba.
"Gue gak percaya, cowok model kayak lo bisa suka sama gue.", jawab Deasy.
"Deas, jujur gue suka sama lo, gue cinta sama lo, dari cara lo ngebelain Arista, kepedulian lo menandakan kalau lo bisa sayang banget sama seseorang. Itu yang bikin gue yakin atas perasaan suka suka gue ke lo.", jawab Faris.
Menengar perkataan Faris, Deasy kemudian diam sejenak. Nampak ia menitikkan air mata. Faris berinisiatif memeluk Deasy, Deasy menangis di dekapan Faris. Deasy nampak menyesal dan tak menyangka kalau akan jadi begini akhirnya. Faris memberainkan diri menyatakan apa yang ia rasakan, "Deas, maukah kamu jadi kekasihku ?"
"Gue mau jadi pacar lo, asal lo jangan tinggalin gue tanpa sebab, gue trauma kalau itu terjadi.", jawab Deasy.
"Gue gak akan ninggalin lo, Deas.", jawab Faris.
Lalu mereka berempat tersenyum bahagia, Faris dan Deasy akhirnya menjalin satu hubungan, dan membawa cerita baru tanpa merubah persahabatan dengan Uki dan Arista.
-TAMAT-
''NB : mohon maaf banyak kata yang diketik miring, karena tersebut tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia''
Tidak ada komentar:
Posting Komentar